Langsung ke konten utama

Terima Kasih untuk 288 Warna di Tahun 2022

Assalamu'alaikum warahmatullah...

Halo, manusia baik. Apa kabar? Baik kan? Atau sangat baik? Semoga selalu dalam keadaan baik♥️

Maaf harus menyita waktumu untuk membaca ini, tapi aku yakin dirimu tidak akan mungkin membaca ini. Aku hanya menulisnya untuk melegakan dan melepaskan semua rasa, mengoreknya lagi lebih dalam untuk ku bersihkan seluruhnya.

Mungkin ini akan menjadi panjang, jadi siapkan diri di posisi ternyaman yaa karena akan ada banyak sekali yang ingin ku sampaikan. Ku coba mulai yaaa~

-----------------------------------------------------

Sepertiga awal tahun 2022 ku, dipertemukan olehmu –Si pemilik senyum manis yang kala itu berfoto diapit oleh kedua temannya–.

Aku tidak pernah berpikir mengiyakan dan meladeni setiap permintaan yang dilontarkan makcomblang kita. Karena bagiku, terlalu menyeramkan untuk mengenal orang asing di luar kehidupan nyataku. Namun, kala itu aku melihatmu sebagai sosok yang dewasa (yang pada akhirnya dirimu memang sosok dewasa).

Setelah saling menjadi pengikut, aku berkeyakinan kau memang akan mengetuk "pesawat" itu. Mengirim sepenggal salam yang entah membuatku bergidik ngeri. Sejak awal, sudah ku tebak seperti pengalaman yang dulu-dulu, para lelaki ini akan berangsur menghilang jika rasa penasarannya selesai.

Ternyata benar, kita hanya berkomunikasi selama 2 hari. Ku putuskan untuk berhenti karena memang tidak ada kepentingan lagi. Selang beberapa hari, kenapa dirimu mengincar sosmedku yang lain? Mengirimkan permintaan pertemanan dan mengirimkan sepenggal chat "indah?".

Lagi-lagi, setelah kejadian itu, tidak ku gubris lagi. Aku -Si stalker handal- tentu memperhatikan foto-fotomu kala SMA. "Seperti tidak asing", gumamku sembari mengingat senyum, tingkah tengil, bahkan sekolah itu.  Aku seperti pernah bertemu sebelumnya.

Selang beberapa hari, untuk yang ketiga kalinya dirimu menghubungi. Bertanya perihal status yang ku bagikan dan memulai percakapan baru yang membuat kita semakin dekat.

Dirimu lucu, si keras kepala yang masih berusaha melembutkan diri ketika berdiskusi, si cerdas yang mampu membuat aku tertawan meskipun kerapa ku temukan beberapa perbedaan.

Hingga percakapan itu berlanjut ke ruang WhatsApp. Untuk pertama kalinya, aku melihat senyuman itu (Setelah berakhirnya hubungan ini, aku tersadar bahwa foto yang memegang mic itu pernah ku bayangkan ketika ditanya seperti apa fisik laki-laki yang aku inginkan). Persis seperti itu, si pemilik gigi rapih beserta senyum ramah dan manis. 

Suatu ketika, akhirnya kita memutuskan untuk meletakkan seluruh hal di tempat yang dirimu sebut sebagai meja. Kita meletakkan aneka rasa yang kita punya bahkan menukarnya satu sama lain. Aku memang belum menerima seluruhnya, sampai ketika di hari ulang tahunku, aku menangis. Memutuskan untuk berhenti dengan laki-laki ini, yang baru ku kenal selama 7 hari tapi mampu membuatku begitu merasa kehilangan.

Tidak tahu apa yang kupikirkan saat, hanya terlintas:

"Dia udah berusaha semaksimal mungkin, ndah. Tega yaa kamu ninggalin seseorang cuma karena hal yang ke depannya belum tentu benar-benar buruk"

Untuk pertama kalinya semudah itu aku menangis. Mungkin tiga kali pada hari itu.

Mungkin memang salahku.

Salahku, menaruh rasa nyaman terlalu mudah. Padahal aku tahu persis diriku bukanlah tipe yang bermudah-mudahan luluh dengan laki-laki.

Salahku juga, yang merasa dirimu benar-benar menjadi seorang kakak.

Bahkan, untuk banyak hal yang sudah kita lewati, aku selalu kembali pada titik yang sama, dirimu.

Berulang kali aku mengucapkan dalam hati,

"Selamat karena telah memenangkan diriku dan mengambil alih seluruh duniaku"

Dirimu tahu?

Aku masih ingat tentang dirimu yang selalu bertanya terkait penampilanmu ketika menjadi juri kala itu; dirimu sebagai orang pertama yang ku iyakan untuk bertelepon; yang selalu ku bangunkan setiap jam 13.30 WIB; yang pernah memamerkan martabak coklat padaku; yang dengan semangat menceritakan adik kecilnya; yang pernah dengan lembutnya mengeluarkan suara manja ketika ku bangunkan; yang menghiburku dengan mengirimkan foto menyerahkan uang 200rb ketika aku sedang di IGD menunggu kamar untuk emak; dan yang-yang lainnya.

"Aku ingat semua itu. Masih melekat. Jelas."

Dirimu ingat pertemuan pertama kita? Tidak pernah terpikir itu akan menjadi hari terindah yang pernah aku rasakan.

Kokoh putih itu,

senyuman itu,

kulit putih bersih itu,

padahal sebelumnya kita beradu argumen.

Maaf jika aku terlalu malu saat itu, bahkan beberapa kali menyuruhmu segera pulang. Aku terlalu takut semburat pipi merah itu terdeteksi olehmu. Aku masih ingat candaanmu kala itu, "Jahat. Pempek belum turun, udah disuruh pulang".

Tapi, ada satu hal yang aku ingat. Setelah pertemuan itu,  dirimu segera menghubungiku kan? dan berkata:

"Nanti kita cari solusinya bareng-bareng yaa"

Aku merasa beruntung dipertemukan laki-laki sebaik ini, walaupun diam-diam jahat membiarkan air mataku mengalir berkali-kali.

 Aku suka ketika Abang berkata, "Always stay with me"; Aku juga  selalu suka panggilan kita berdua: Abang-Dinda; dan aku suka semua hal yang melekat pada laki-laki (ku) ini.

Masih ingat ketika dirimu meminta rincian terkait biaya untuk pernikahan? Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk memberatkan. Diriku init hidupmu sudah terlalu berat, tidak pernah ku paksakan apapun. Bahkan ketika dirimu bertanya:

"Kamu kalau ditanya, mau mahar apa?"

"Mau 7gr emas, aku suka angka 7"

Dengan tegas dirimu mengatakan, "Abang bisa kasih lebih, tapi tidak untuk ditentukan"

Dari sini aku paham bahwa nilai seorang perempuan memang tidak dilihat dari seberapa besar mahar yang ia ajukan.

Lanjutmu dengan lembut, "Perempuan yang berkah itu yang maharnya mudah, tetapi laki-laki harus menyiapkan mahar terbaik".

Dirimu masih ingat lagi? pernah meminta aku mengirimkan vn mengaji kan? Bagaimana?

Aku tidak lancar yaa? Hehehe maaf yaa, perempuan ini memang harus banyak belajar dan diajari. Aku bahkan sebenarnya paham ketika dirimu membalas:

"Nanti kalau disini belajar lagi yaa"

Aku tahu maksud perkataan itu, aku aamiini itu sambil tersenyum. Tapi, reaksiku kembali bertanya "Disini?", tapi dirimu terlalu sulit untuk berkata jujur hehe

Momen lainnya adalah saat malam dimana esoknya kita batal berjanji untuk bertemu dengan mamah, sejujurnya saat itu aku lagi-lagi menangis. Untuk pertama kali aku merasakan dirimu sekeras itu, sesulit itu yaa untuk saling memahami? Tapi, yasudah. Pada akhirnya kita bertemu dengan merelakan agenda yudisium temanku dan aku selalu bersyukur untuk itu.

Terimakasih yaa sudah memperkenalkan aku dengan mamahmu yang hebat, dengan adik kecilmu yang lucu. Mereka ternyata begitu menggemaskan. Diluar ekspektasi ku sebelumnya hehe

Setelahnya, aku masih dengan sangat yakin kita akan baik-baik saja. Untuk semua rencana yang sudah kita susun sedemikian rupa, untuk setiap ragu yang menjadi yakin pada akhirnya, dan untuk hal yang perlahan kita lakukan bersama-sama. Aku selalu yakin kita akan berakhir kita.

Sampai akhirnya, di bulan Agustus kita mulai sering mengalami salah paham. Abang yang rumit atau aku yang rumit? Aku yang sulit memahami atau Abang yang sulit dipahami? Entahlah tapi sejak saat itu, kita tidak sehangat dulu.

Abang tahu, dari sekian banyak kata yang keluar ketika kita berselisih, kata apa yang paling aku benci? Jawabannya adalah "Saya". Menurutku itu kasar, sangat menyakitkan. Abang adalah Abang, bukan "Saya". Bahkan, sampai saat ini masih begitu menyakitkan ketika terngiang kata-kata itu.

Berkali-kali kita mengambil jeda, tetapi pada akhirnya selalu aku yang kembali. Selalu aku yang tidak pernah tahan untuk tidak menghubungi. Aku yang selalu khawatir ketika hujan; aku yang selalu khawatir ketika Abang pulang malam; aku yang selalu khawatir kalau Abang terlalu lama membalas; Aku yang selalu khawatir jika Abang mengeluh sakit; dan aku yang selalu khawatir ketika Abang menyinggung nama seseorang.

Beberapa orang bilang, pohon jika semakin tinggi maka angin akan menerpanya semakin kencang. Begitupun juga kita, puncak tertinggi yang membuat aku tersadar bahwa Abang belum tergantikan adalah ketika ada pria lain datang membawa banyak hal menarik dari hidupnya. Keluarga harmonis, pendidikan tinggi, ekonomi yang mencukupi, berasal dari keluarga terpandang, tapi pada faktanya dia tidak pernah mampu menggeser posisi Abang. Abang tahu itu secara persis, tidak ada hal yang bisa ku tutupi dengan sangat baik. 

Aku bertanya, "Abang minder?"

"Iyaa, dia punya segalanya. Abang cuma kayak gini"

"Dia punya karena privilege, Abang punya karena usaha sendiri"

Yang tidak pernah berani ku katakan adalah:

"Pada akhirnya, Abang memang masih memenangkan segalanya. Seharusnya memang tidak perlu khawatir tentang apapun itu karena memang masih Abang pemenangnya"

Aku selalu bersyukur, untuk banyak canda tawa yang sudah kita lewati.

Terima kasih sudah mengisi kekosongan ini.

Terima kasih sudah mau menemani hari-hariku yang sepi.

Terima kasih sudah meluangkan banyak waktu untuk perempuan asing ini.

Terima kasih sudah berhasil membuat bocil ini merasakan kupu-kupu di perutnya lagi.

Tidak pernah ada yang salah dari diri Abang. Kalau memang Abang kaku, keras, dendaman, egois, memangnya kenapa? Aku bisa terus belajar menjadi seorang yang fleksibel dan mudah beradaptasi, toh aku bisa menceritakan kekonyolan hidup aku kannn? Beberapa orang bilang aku lembut dan pengalah, terkadang juga aku lebih mementingkan orang lain di bandingkan diriku sendiri. Bukankah kita masih bisa saling melengkapi?

Tapi, ada yang missed dari kita berdua. Jarak, waktu, dan komunikasi. Terlalu banyak salah paham yang belum kita selesaikan. Permasalahan yang tidak pernah bisa terselesaikan hanya dengan saling argumen memalui teks. Dan lagi, kita kalah dengan keadaan, tepatnya aku yang kalah.

Aku kalah untuk tetap bertahan.

Aku kalah karena berhenti berjuang agar seluruh kenyamanan itu bisa kita rasakan kembali.

Aku kalah dan gagal menjadi rumah untuk pria ini. Rasanya Abang seperti tidak pernah lagi ingin pulang.

Aku tahu semuanya berasal dari aku dan aku tahu Abang berpikir aku memang pantas mendapatkan ini. Tapi...

Nyatanya aku tidak pernah beranjak.

Aku hanya perlu waktu untuk menetralkan rasa ini, terlalu takut jatuh terlalu dalam pada perasaan ini.

Aku terlalu takut jika pada akhirnya 'surga' itu bukan Abang.

Aku memang si pengecut dan naif, aku yang tidak pernah berani mengambil resiko.

Faktanya, aku tidak pernah berhenti dan pergi. Masih menjadi dindamu yang masih terus khawatir, aku hanya merubah caraku mendampingimu. Tidak lagi dengan diriku, tapi dengan ribuan do'aku.

Tetapi, 

"Kalau Abang butuh tempat pulang, aku masih di tempat yang sama.

Kalau Abang butuh didengarkan, aku masih menjadi pendengar setia.

Kalau Abang butuh hiburan, aku masih bisa menceritakan banyak cerita konyol di hidup aku.

Kalau Abang masih menginginkan aku for being your life, your wife, and your love; aku masih setia menunggu di sini."

Tetapi, jika seluruh ekspektasi ini salah. Aku meminta maaf karena telah gagal mengendalikan perasaanku. Aku tahu, Abang bukan tipe yang akan kembali ke tempat semula jika sudah memutuskan beranjak pergi. Aku tahu Abang akan semakin menjauh, mencari rumah yang dapat menerima Abang dengan sangat baik.

Tidak apa, selama Abang tahu yang terbaik untuk diri Abang sendiri, aku turut mendo'akan yang terbaik. Abang pernah berkata kan,

"Semoga kamu tidak mendapatkan laki-laki yang lebih buruk dari saya"

Abang tahu apa? Seburuk apapun itu, hatiku selalu bilang Abang yang terbaik. Akan sangat mudah aku menemukan laki-laki yang lebih buruk dari Abang karena pada dasarnya Abang menduduki posisi teratas.

Aku tidak pernah tahu apakah ini sayang, cinta, atau obsesi. Beberapa orang pernah berkata, semakin banyak kau mendo'akan seseorang, sebanyak itu rasa cintamu kepadanya.

Maaf yaa jika aku diam-diam lancang membawa namamu. Entah berapa banyak do'a yang ku haturkan untuk pria satu ini. Tentang bahunya yang harus dikuatkan; badannya yang harus disehatkan; senyumnya yang harus selalu disunggingkan; rezekinya yang harus dicukupkan dan diberkahkan; segala urusannya yang dilancarkan; dan untuk kehidupannya yang harus lebih dibahagiakan.

Bahkan, do'a untuk diriku hanya perihal tenang.

Abang, kalau aku boleh cerita, aku masih suka menangis dan merutuki diri sendiri berkali-kali. Tentang sesaknya rindu yang Allah titipkan, tentang aku yang selalu gagal untuk berhenti mencari tahu kabarmu, tentang rasa bersalah pada laki-laki ini, tentang rasa gagal menjaga diri sendiri, dan tentang kita yang pada akhirnya tidak akan pernah menjadi kita.

Tapi aku rasa, hidup Abang semakin baik bahkan lebih baik tanpa aku. Itu menandakan memang aku membawa beban untuk Abang. That's why Allah gak izinkan kita sama-sama walaupun sekuat tenaga kita berusaha untuk bersama.

Semoga di umur Abang yang 26 ini, Allah kirimkan wanita terbaik yaaaa yang bisa menjadi rumah untuk Abang. Semoga Allah mempermudah kalian untuk dipersatukan di mahligai pernikahan. Entah itu dengan siapapun pilihan Abang.

...dan untuk banyak hal yang sudah kita lewati, aku selalu berterima kasih ribuan kali. Untuk banyak menit yang kita habiskan bercakap via telepon; Untuk banyak vn yang Abang kirimkan ke aku; untuk banyak kata-kata yang sebenarnya itu perkataan orang lain; aku selalu bersyukur menerima itu semua.

"Aku selalu merasa cukup untuk semua hal yang melekat pada diri Abang"

"Aku selalu berharap dipertemukan lagi dengan seseorang yang membuat aku merasa cukup, meskipun pada akhirnya aku menyimpan dua orang di dalam kehidupan aku"

Terimakasih untuk 288 hari yang penuh warna, terimakasih sudah menjadi pelangi meskipun berkali-kali hujan juga mendatangi.

Detik ini, aku masih menahan rindu yang tidak kunjung selesai. Fase yang tidak pernah ku suka ketika memutuskan untuk jatuh cinta. Ku nikmati ini setiap hari, meskipun tidak nikmat. Lucunya, aku memastikan dirimu baik-baik saja hanya lewat perubahan angka followers dan followingmu. Maafkan ketidakjelasan bocil ini yaa hehe

Maaf untuk seluruh luka yang pernah ku beri, jika Allah mengizinkan kita menjadi kita: akan ku usahakan untuk menyembuhkanmu dan membuatmu tetap sehat selama hidupmu. Namun, jika tidak, bidadari lain yang akan menyembuhkannya :''')

Abang harus selalu sehat yaaaaaaa! Ada dua perempuan yang harus Abang lindungi, tetap kuat dan bahagia!

I don't know how to explain this feeling, i just wanna say "Everything will always going to be okay as long as i see you're okay, bang♥️" 😉



With love,


(I am still) Your Dinda❤️


------ Sabtu, 16 Desember 2022

Komentar